Artikel News

Ditengah Pandemi Corona, Petani Rejang Lebong Tetap Inisiatif Dan Inovatif

LENTERAPUBLIK.COM – Sayuran adalah salah satu bahan pangan yang sangat digemari oleh setiap orang. Dikonsumsi dengan cara bermacam-macam, baik sebagai bagian dari menu utama maupun makanan sampingan (lalapan). Kandungan nutrisi antara sayuran yang satu dan sayuran yang lain pun berbeda-beda, meski umumnya sayuran mengandung sedikit protein atau lemak, dengan jumlah vitamin, provitamin, mineral, karbohidrat yang bermacam-macam. Beberapa jenis sayuran bahkan telah diklaim mengandung zat antioksidan, antibakteri, maupun zat anti racun.

Dalam kondisi seperti sekarang, dunia yang di selimuti dengan wabah Covid-19 menjadikan setiap orang harus memperbanyak konsumsi sayuran maupun buah-buahan,  sehingga daya tahan tubuh manusia meningkat.

Dari hal tersebut, penyangga pangan atau petani harus mencukupi kebutuhan sayuran agar selalu tersedia dipasaran.  Sayangnya, harga sayuran sekarang sungguh kurang memuaskan untuk petani.  Tidak dapat juga diperdebatkan atau disalahkan oleh petani, bandar atau gudang, konsumen, karena musibah global inipun tidak di inginkan.

Baca juga : Bertambah, 9 Karyawan RSUD Mukomuko Reaktif Terjangkit Covid-19

Adi Sutardianto selaku petani sayuran menyampaikan ke wartawan Lenterapublik.com bahwa di Air Meles Atas Kecamatan Selupu Rejang wabah virus COVID-19 sangat berdampak pada penjualan ke pengepul atau gudang yang sulit untuk  mengirim  ke luar daerah,  Sebelum wabah, harga cabai merah  dipatok Rp40-50 ribu per kilogram. Tapi saat ini harga cabai turun drastis apa lagi sebelum masuk bulan puasa kemarin.

“Dengan harga murah saat ini petani juga kesulitan untuk menjual hasil pertaniannya. Sebab minimnya permintaan. Apalagi setelah ada pembatasan waktu operasional pasar dan lock down, membuat kami para petani menjual hasil panen sayuran petani jadi bertambah sulit

Adi menambahkan harga sayuran jatuh pada tingkat petani karena gudang yang mematok harganya. Ada juga beberapa petani sebelum masuk puasa kemarin terpaksa membuang hasil pertanian seperti tomat dan cabai hijau karena tidak ada gudang yg mau menerima

Baca juga : Kisah Perjuangan Ojol Perempuan Cukupi Kebutuhan Keluarga

“Petani enggak mau cabainya busuk, tapi terpkasa mereka menjual di harga yang murah. Saat ini petani harus lebih kreatif dan inovatif dalam usaha budidaya yang mereka lakukan,” ungkap Adi

“Jika sebelumnya tumpangsari menjadi sistem wajib dalam budidaya,  saat ini harus merubah dengan sistem campursari, yaitu variasi atau memperbanyak jenis tanaman dalam satu lahan. Tetapi tidak dilakukan secara asal-asalan,  melainkan dengan pola tanam bergilir atau waktu tanam, karena inti sistem campursari ini yaitu semua jenis tanaman adalah tanaman pokok. Misal dalam satu lahan, awalnya petani menanam cabe dan tomat,  setelah habis ditanam dengan varian tanaman lain yaitu jagung manis,  terong,  buncis,  timun,  semangka,  sawi,  kangkung, dan lain-lain,” jelas Adi kepada kami Lenterapublik.com

“Dengan sistem ini,  setidaknya dapat mengurangi tingkat kegagalan petani,  terutama harga saat panen. Karena bisa saja dari 1 jenis tanaman yang dihasilkan, dapat menutupi modal tanaman lainnya.  Dan yang jelas bisa menambah income petani itu sendiri. ” kata Adi.(Ij)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *