lenterapublik.com
Kisah

Kisah Perjuangan Ojol Perempuan Cukupi Kebutuhan Keluarga

Profesi sebagai tukang ojek lazimnya dilakoni oleh seorang laki-kali, kalau pun ada perempuan jumlahnya sangat sedikit sekali. Tetapi, sejak ojek online (Ojol) masuk ke Indonesia, mulai banyak perempuan yang menjalani profesi sebagai tukang ojek. Termasuk juga di Kabupaten Rejang Lebong, beberapa perempuan tidak lagi sungkan-sungkan menjalani profesi ini. Salah satunya adalah Yuli Hartati (49), warga Kelurahan Talang Rimbo Lama. Bagaimana kisah manis pahitnya perjuangan Yuli Hartati, berikut kisahnya.

Yuli Hartati mulai menjalani aktivitas sebagai Ojol sejak tahun 2018 lalu. Bahkan, Yuli termasuk Ojol perempuan pertama di Kabupaten Rejang Lebong, yang kemudian mulai bergabung perempuan-perempuan tangguh lainnya menjadi mitra Grab. Dia bekerja sebagai Ojol demi memenuhi kebutuhan keluarganya, karena memang Yuli merupakan perempuan single parent. Sebab, sudah berpisah dengan mantan suaminya sejak 5 tahun lalu.

Karena itulah dia harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga seorang diri, apalagi masih ada tanggungan anak-anaknya yang memerlukan biaya sekolah, serta lainnya.

“Saya tidak pilih-pilih kerja, yang penting halal dan berkah,” ungkap perempuan kelahiran 1972 ini.

lenterapublik.com
Yuli Hartati bersama 5 orang putranya

Dia menuturkan bahwa saat ini memiliki 5 orang putra. Dari 5 orang putra tersebut, 3 orang sudah bekerja dan mandiri. Sedangkan, 2 orang putra lagi masih menjadi tanggungannya. Yaitu, Prayogi berusia 21 dan tidak bisa lagi melanjutkan pendidikan formal lantaran pernah kecelakaan dan satunya lagi si bungsu, Galang masih duduk di bangku kelas 1 SMP.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali, tiga orang anak saya sudah bekerja dan mereka semua bisa mengerti dengan keadaan saya. Sehingga mereka tidak pernah melarang atau malu dengan profesi ibunya,” ujar Yuli.

Sebelum berprofesi sebagai Ojol, Yuli juga pernah berjualan keliling demi menghidupi ke 5 putranya. Lantaran merasa masih perlu kebutuhan lainnya, sehingga sejak 2 tahun lalu, ia mencoba mendaftar menjadi mitra  Grab dan akhirnya ia diterima dan masih nge-Grab hingga sekarang. Selain, bekerja sebagai Ojol ia juga berjualan ikan keliling, yang ia beli langsung di Kota Bengkulu saat menyempatkan diri melihat putranya yang menetap di Kota Bengkulu.

“Sebagai Ojol, penghasilan saya tidak menentu. Kalau lagi ramai, Alhamdulillah bisa disisihkan untuk tabungan sedikit, tapi kalau sepi, cukup buat kebutuhan sehari-hari saja sudah Alhamdulillah. Berapapun itu harus kita syukuri dan harus tetap bekerja dengan ikhlas,” ucapnya sembari menasihati.

Banyak suka dan duka bekerja sebagai Ojol. Ketika turun hujan, sehingga muncul kekhawatiran terhadap pesanan makanan yang akan diantar, takut basah, takut konsumen minta ganti rugi atau berbagai pikiran buruk lainnya yang sempat terlintas di benaknya. Belum lagi saat mengalami pecah ban atau motor mogok mendadak.

Ia juga meceritakan, tidak jarang harus menerina omelan konsumen karena keterlambatan mengantar orderan. Padahal, saat itu dia harus mengantre lama untuk mendapatkan pesanan konsumen atau harus berkeliling mencari alamat rumah konsumen, karena titik antar di aplikasi tidak tepat.

“Saya diomel, dibilang masa di sini saja tidak tahu. Rasanya, kepengen nangis bener saya mas. Padahal, kita tahu sendiri kalau di Curup ini banyak gang,” ucapnya hampir meneteskan air mata.

Namun, dibalik pahitnya bekerja sebagai Ojol, ada cerita manisnya juga. Seperti, ketika berkumpul dengan teman-teman ojol lainnya saat sedang menunggu orderan.

“Saat kita kumpul bercanda gurau dengan teman-teman, rasa capek, resah, gelisah terasa hilang semua,” ungkap Yuli mengingat pengalaman menyenangkan itu.

“Saya tidak dapat menceritakan semua pahit manisnya kehidupan yang saya jalani. Namun yang pasti, saya harus selalu bersyukur dan berdoa. Semoga Allah selalu melindungi saya dan anak-anak saya, juga teman-teman seprofesi dengan saya. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki yang cukup,” harap Yuli menghakhiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *