Artikel Kisah News

Rejang Lebong Butuh Figur Visioner

LENTERAPUBLIK.COM – Jika menilik usia, maka Kabupaten Rejang Lebong tidak lagi disebut kabupaten yang baru netas. Berkaca pada UU Drt Nomor 4 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom, Rejang Lebong termasuk kabupaten tua di Provinsi Sumatera Selatan, lalu bergabung dengan Provinsi Bengkulu setelah pembentukan Provinsi Bengkulu berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967.

Dengan usianya setua itu, mestinya sudah kenyang makan “asam garam”, bahkan sudah berkali-kali berganti kepala daerah. Tetapi kenyataannya, Rejang Lebong masih jauh tertinggal dengan kabupaten lain di Provinsi Sumatera Selatan.

Letak geografis Rejang Lebong yang tidak berada di jalur lintas Sumatera, tidak layak dijadikan alasan mengapa kabupaten ini tertinggal dari kabupaten/kota tetangga di Provinsi Sumatera Selatan (Musirawas/Lubuklinggau,red). Karena, setiap kabupaten pasti memiliki potensi dan keunikannya sendiri yang bisa diandalkan untuk menjadi daerah yang maju. Dampaknya masyarakat sejahtera, karena terjadi peningkatan pendapatan. Jika masyarakat sejahtera maka arus perputaran ekonomi tinggi, pasar-pasar menjadi ramai, sektor-sektor usaha semakin tumbuh.

Hanya saja, tidak semua orang memiliki kepekaan dan kemampuan mengelola potensi daerah (mampu menangkap peluang). Apalagi letak geografis bukan berada di jalur perlintasan antar provinsi, maka perlu adanya terobosan dan keberanian agar Rejang Lebong bisa mengejar ketertinggalan dengan kabupaten/kota lainnya.

Oleh karena itu, salah seorang tokoh masyarakat Rejang Lebong, Japrion Djanib mengatakan Rejang Lebong saat ini sangat membutuhkan figur muda yang visioner, figur yang memiliki sense of futuristic.

Setelah melihat dan mempelajari track record beberapa kandidat yang akan turun pada kontestasi Pilkada Rejang Lebong mendatang, menurut Japrion M. Fikri Thobari, SE merupakan figur yang tepat dan diyakininya mampu membawa perubahan Kabupaten Rejang Lebong ke arah yang lebih baik.

Dia mengatakan, seorang pemimpin atau kepala daerah, harus memiliki visi misi kedepan, bukan cukup sampai masa periodenya habis saja (5 tahun).

“Saya berkeyakinan, M. Fikri Thobari mampu menahkhodai Kabupaten Rejang Lebong ini menjadi lebih maju dan lebih baik,” ujarnya.

Penilaian Japrion itu bukan tanpa alasan atau berdasarkan suka dan tidak suka. Namun, dia melihat di usia M. Fikri yang relatif masih sangat muda ini, sudah mampu mendirikan, serta mengelola perusahaan menjadi sebesar sekarang ini. Apalagi perusahaan tersebut benar-benar dia rintis dari nol, hingga akhirnya mampu mengekspansi ke berbagai kota lainnya seperti, Kota Lubuklinggau, Kota Palembang, Sumatera Selatan, bahkan hingga ke pulau Jawa yakni Provinsi Banten. Tidak semua orang bisa seperti M. Fikri Thobari. Butuh kesabaran dan mental yang tangguh.

“Sebenarnya, manajemen pemerintahan dan perusahaan swasta itu tidak jauh berbeda. Sama-sama mengelola potensi, mengelola keuangan, ada target yang harus dicapai. Jadi, kalau ada yang bilang M. Fikri belum berpengalaman itu salah. Justru M. Fikri ini sudah sangat berpengalaman, mendirikan perusahaan dari kecil hingga menjadi besar. Hanya seorang visioner yang mampu melakukan itu,” tegas Japrion.

Sebab itulah, Japrion yakin bahwa M. Fikri bisa mengelola Kabupaten Rejang Lebong ini. Apalagi, memiliki potensi yang sangat besar, jika dikelola dengan tepat dan benar, tentu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kita punya tanah yang subur. Kita penghasil kopi, penghasil sayur mayur, beras dan tanaman pangan lainnya. Mengapa hal tersebut tidak kita maksimalkan dan dijadikan potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nah, untuk memaksimalkan itu, butuh seseorang yang kreatif, inovatif, punya visi misi kedepan, punya jaringan yang baik. Kita harus ingat, bahwa tugas kepala daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” jelas mantan PNS Bappeda Provinsi Bengkulu tersebut.

Apalagi setelah dia mengetahui program-program yang dijalankan M. Fikri Thobari jika nanti mendapat amanah masyarakat. Dia semakin yakin, Rejang Lebong bisa semakin maju. Seperti, program peningkatan SDM melalui pelatihan-pelatihan, pinjam modal untuk UKM, pengelolaan pontensi wisata, pertanian dan perkebunan, pembangunan pasar, dan lainnya.

“Apa yang dirancang M. Fikri sudah tepat. Kita ambil contoh, untuk wilayah Kecamatan Selupu Rejang sampai Sindang Dataran itu kondisinya mirip dengan Malang. Mengapa kita tidak mengembangkan potensi apel. Kirim petani kita untuk belajar ke Malang. Jangan PNS-nya yang dikirim, tetapi petaninya. Kemudian sektor pariwisata, bagaimana caranya agar wisatawan mau berkunjung ke Rejang Lebong. Potensi apa yang bisa dikembangkan, seperti apa kemasasan objek wisatanya, lalu promosinya. Kemudian pinjaman modal untuk usaha. Rejang Lebong juga bisa mendirikan bank sendiri, dimana tujuannya untuk memberikan pinjaman modal usaha kepada para pelaku usaha. Biasanya, setelah seseorang mengikuti pelatihan keterampilan, orang tersebut butuh modal untuk usahanya. Nah, kita punya bank yang menyiapkan modal untuk usahanya. Apalagi konsep pelatihan yang rancang M. Fikri sangat tepat, tidak hanya pelatihan keterampilan saja, tetapi juga pelatihan manajemen bisnisnya. Sebab itu, saya melihat M. Fikri Thobari, SE adalah figur yang tepat untuk mengelola Kabupaten Rejang Lebong,” demikian Japrion.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *